Sex and The City 2: Suami lima hari

Posted: June 4, 2010 in Film
Tags: , , , , , , ,

Blitz, Grand Indonesia, Rabu 2 Juni 2010.

Sudah jam 9 malam, perempuan-perempuan modis dan laki-laki bergaya kemayu memenuhi lobi Blitz.

Hampir setiap 30 menit, sekuel film empat sekawan NYC itu diputar. Saya sendiri kebagian jam 10. Tidak banyak pilihan kursi ketika saya mengantri satu jam sebelum film itu diputar, jadi harus terima duduk di sayap kiri.

Well, sembari menunggu, asyik juga memandangi perempuan modis yang berseliweran. Sepertinya saya sedang kurang jalan-jalan ke mall -which is I don’t enjoy it- sehingga berasa ‘misfit’ malam itu. Yeah, I’m the only woman with backpack watching that movie scene full by LV dan Birkin Bag.. :D

But anyway, saya selalu menyempatkan diri menonton film Carrie dan teman-temannya itu. I love that TV serial, and even so disappointed with the 1st movie, I cant ignore the 2nd one.

well, the point on 1st movie that I didn’t agree is Carrie and Big’s marriage. Maksud saya, konstruksinya kok begitu ya. Saya bukan anti pernikahan, tapi ketika pernikahan jadi tujuan eksisnya perempuan, rasanya ada yang salah. Samantha, satu-satunya lajang disitu digambarkan jalang. Seolah-olah, HANYA YANG JALANG YANG TIDAK MENIKAH.

anyway, dari awal saya tidak berharap banyak menonton sekuel ini. Minimal, bisa lah nonton yang gaya-gaya gitu. Even I’m not the kind of person enjoying mall, I love to see how that girls enjoying their life with good bag and shoes :D . some kind of guilty pleasure, maybe.

so, betul saja, sekuel kedua ini tak ubannya film iklan. Mulai dari LV, Rolex sampai Vodka dan Mercedez Bens. Semuanya simbol kemewahan, glamoritas, simbol hadiah yang ‘diciptakan pantas untuk pribadi sukses’. Gelimang kemewahan itu yang kemudian menciptakan fantasi bagi penonton. Mbak-mbak yang duduk disebelah saya dan kampungan setengah mati –krn mereka enggak matiin hp di bioskop- itu, berucap, “kapan ya gue punya kayak gitu,” ketika adegan Carrie dan teman-temannya dijemput Mercedes, di Abu Dhabi.

yeahh rite…

Sebetulnya, diantara gelimang simbol kapitalisme itu,  sutradara Michael Patrick King berusaha menggelontorkan persoalan-persoalan umum kaum urban. Masalah waktu pribadi pada pasangan menikah, ibu yang merasa bersalah karena lelah mengurus anak balitanya yang selalu menangis, perempuan pekerja yang harus mati-matian menghadapi kompetisi dan politik kantor, sampai kepada perempuan lajang yang berjuang melawan tua karena ancaman kesepian.

Semua itu, ada di sekitar kita kan?

Ide tentang ‘libur’ dalam pernikahan, seperti Carrie dan Mr Big, misalnya. Dulu, saya selalu berpikir, apa ada orang yang dilahirkan untuk tidak menikah? Apa semua harus berpasangan, harus menikah? Karena dengan konsep ‘menikah ialah menyatukan dua orang’ ialah sesuatu yang berat. Seriously, I think its so hard.

Karena ada yang enggak tahan untuk terus bersama-sama dengan satu orang yang sama. Ada yang menyingkirkan kesenangan-kesenangan personal agar pacarnya tetap bersama dia. Sometimes, saya melihat seperti itu.

Ada perasaan lega untuk tetap punya ruang pribadi, bisa melakukan hal-hal yang cuma kita saja yang mengerti kenapa hal-hal tersebut berarti. Dulu, saya menyebutnya ‘own day’. karena kita perlu istirahat, bukan sekadar cuti dari pekerjaan, tapi juga istirahat sebagai pacar orang.

menjadi pacar seseorang, kita perlu berkompromi.

menjadi istri seseorang, kita terikat pada norma pernikahan dan tetap perlu berkompromi.

menjadi ibu seorang anak, kita akan cenderung memenuhi kebutuhannya, selalu memberi tuntutannya.

jadi sebetulnya ide ‘cuti’ untuk menjadi diri sesungguhnya diri itu masuk akal juga. just like Carrie, she still has her own apartment. She ask 2 days off as a wife to work in her old apartment. After then, life back to normal.

Tapi saat Big mengajukan keinginan cuti serupa, dan menjadi suami lima hari, ia kelabakan, berasa permintaan itu enggak masuk akal. dan berkompromi pada keinginan itu krn Mr Big mengingatkan ucapan Carrie “every couple has their rule to make the relation work”

di akhir film, tentu saja semuanya kembali normatif. meski opsi untuk ‘cuti dari kehidupan normal’ tersedia. Carrie’s old apartment is a room to them and their friend get off from their routine.

well, I hope I have that option.

But talking about the movie, well, sorry, it just a bad movie. If you are Sex and The City HBO serial lover, you will not meet your friends in cinema. Dan kritik ini pun hampir mengglobal. Semua review menohok film ini disana sini, mulai dari fesyen sampai kisah yang kurang menggigit, tapi tetap aja kok pendapatan film ini membumbung tinggi.

-I just miss how that 4 girls enjoying their friendship and New York. I remember how Carrie and that New York scene inspires me to become a writer and become New Yorker. hahaha.. shallow, isn’t it?. Now I’m a journalist but still keep a dream as writer. And I went to NYC last year and stayed for a month. Yeah… just because that beloved HBO serial-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s